Sejarah Wina memiliki catatan panjang dengan versi yang beragam.
Dimulai ketika Kekaisaran Romawi membentuk kamp militer di Wina dan sekitarnya pada abad pertama dan menyebutnya sebagai Vindobona.
Dari sejarah inilah, Wina berkembang dari kota kecil menjadi salah satu area perdagangan penting pada abad ke-11.
Wina menjadi ibu kota dinasti Babenberg dan kemudian Habsburg.
Di bawah pemerintahan Dinasti Habsburg, Wina menjadi salah satu kota pusat budaya di Eropa.
Pada abad ke-19, Wina sempat menjadi kota terbesar di Eropa saat menjadi ibu kota Kerajaan Austria dan kemudian Austria-Hungaria. Setelah Perang Dunia I, Wina resmi menjadi ibu kota Republik Austria.
Salah satu referensi terawal tentang Wina adalah catatan dari ahli sejarah Yahudi, Titus Flavius Josephus, yang menuliskan bahwa Raja Yudea, Herodes Arkhelaus (23 SM – 18 M) dibuang ke kota Wina di Galia oleh Kaisar Romawi.
Bangsa Romawi menduduki Wina dan sekitarnya yang saat itu bernama Vindobona pada abad pertama hingga ke-5.
Nama Vindobona yang berakar dari bahasa Keltik mensinyalirkan bahwa area Wina sudah ditempati sejak sebelum Bangsa Romawi masuk.
Bangsa Romawi membentuk kamp militer disana.
Artefak dan cita peninggalan dari zaman medieval ini dapat dirasakan di jalanan dan gang area Distrik Pertama (Bahasa Austria: Innere Stadt) yang merupakan area Kota Tua Wina.
Dari abad ke-6, ditemukan beberapa koin perunggu Byzantium di area pusat kota Wina masa kini, yang mensinyalir bahwa terjadi perdagangan yang cukup signifikan pada masa tersebut.
Pada Abad Pertengahan, Wina pertama kali disebutkan dalam Salzburg Annuals (tahun 881) yang berbicara tentang peperangan melawan bangsa Magyar.
Kaisar Otto I mengalahkan bangsa Magyar pada tahun 955 di Perang Lechfeld.
Setelah kemenangan ini, Wina mulai berkembang banyak selama Abad Pertengahan.
Akhir dari perang juga merupakan akhir dari Austria-Hungaria. Pada 12 November 1918, Republik Deutsch-Österreich, atau Jerman-Austria, dikumandangkan di depan parlemen.
Penduduk terkonsentrasi di ibu kota.
Artikel-artikel di media internasional saat itu meragukan kemampuan Wina untuk bertahan hidup sebagai salah satu metropolis utama Eropa Austria-Hungaria bubar.
Pada tahun 1921, Wina memisahkan diri dari Lower Austria dan mendirikan negaranya sendiri.
Sayap kiri Sosial Demokrat, yang telah mendominasi sejak akhir perang, sekarang bertugas mengatur pemerintahan di kota.
"Wina Merah" dianggap sebagai model internasional.
Banyak perumahan rendah biaya (Gemeindebauten) dibangun selama periode tersebut.
Namun, meningkatnya kesulitan ekonomi mengakibatkan radikalisasi politik dan polarisasi partai-partai politik.
Partai sosial demokrat mendirikan sayap kiri Republikanische Schutzbund (Aliansi Pelindung Republik) dibentuk pada tahun 1923/24 yang merupakan kelompok paramiliter yang terorganisir dengan baik.
Hal ini ditentang oleh sayap kanan Heimwehr ("Penjaga Rumah"), yang merupakan bentukan gabungan dari penjaga lokal dan unit-unit tempur serupa setelah perang berakhir
Hanya beberapa hari setelah perang, pemerintahan dan administrasi sementara serta partai-partai politik diciptakan.
Pada tanggal 29 April 1945, gedung parlemen berpindah tangan dari penjajah ke pemerintahan Austria yang baru.
Karl Renner mengumumkan kembali berdirinya Republik Austria yang demokratis.
Wina dibagi menjadi lima zona pendudukan antara Uni Soviet, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Distrik Pertama (pusat kota) dijaga oleh keempat-empatnya.
Pemilihan umum pertama diadakan pada bulan November 1945.
Dari 100 kursi di dewan kota, sayap kiri Partai Sosial Demokrat mendapat 58 kursi, sayap kanan Partai Rakyat Austria 36, dan Komunis 6.
Pada tahun 1946, diputuskan bahwa perluasan wilayah kota pada tahun 1938 harus dikembalikan, tetapi hukum ini tertunda hak veto dari keempat pendudukan dan baru berlangsung pada tahun 1954. Dua kecamatan tetap dengan Wina, yaitu 22 (Wina) utara Danube dan 23 (Liesing) di selatan (beberapa kabupaten lain memperoleh beberapa Lower Austria wilayah).
Pada tanggal 15 Mei 1955, Austria kembali merdeka dan berdaulat melalui Perjanjian Negara Austria.
Parlemen Austria segera mengubah perjanjian tersebut untuk membangun masa depan Austria yang netral dan tidak berpihak (mirip dengan Swiss).
Perjanjian damai ini disebut perjanjian negara karena Austria sempat hilang keberadaannya pada tahun 1938.
Setelah perang, Austria mengalami ledakan ekonomi, seperti daerah manapun di Eropa Barat, karena adanya bantuan ekonomi yang didapat dari Marshall Plan.
Angkutan umum di Wina ditingkatkan dengan jaringan baru U-Bahn yang mulai beroperasi pada tahun 1978. Pada tahun 1979, perjanjian Pembatasan Senjata kedua ditandatangani di Wina.
Selama tahun 1970-an, Wina menjadi kursi resmi ketiga Perserikatan bangsa-Bangsa dan Kota-UNO dibangun.
Pada akhir abad ke-20, gedung-gedung pencakar langit dibangun, seperti Menara Andromeda dan Menara Millennium pada di sisi kiri dan kanan sungai Danube.
Wina memiliki sekitar 17.000 diplomat yang kebanyakan bertugas di organisasi-organisasi internasional.
Karena kehadiran mereka dan netralitas Austria, Wina menjadi pusat penting The Third Man. Selama Perang Dingin, jumlah mata-mata Wina diduga melebihi jumlah tentara Austria.
Wina adalah ibu kota Bundesland dari Lower Austria (bahasa Jerman: Niederösterreich) hingga tahun 1986 dimana kemudian ibu kota berpindah ke Sankt Pölten karena Wina secara geografis bukan merupakan bagian dari Lower Austria.
Dalam pemilihan wali kota tahun 2001, partai Sosial Demokrat kembali menang mutlak.
Karena Forum Liberal tidak mendapat cukup suara, hanya empat partai yang telah diwakili di dewan kota sejak saat itu. Di pemilu tahun 2005, partai Sosial Demokrat semakin dominan.



